- Tempat Nongkrong Para GIRILAYA mania -


You are not connected. Please login or register

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down  Message [Halaman 1 dari 1]

Admin


Admin
Admin
Pembelajaran GEOMETRI BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING (PBL)



[center]
OLEH

Novi Susanti




Abstrak
[/center]

Matematika adalah mata pelajaran pokok yang diajarkan di setiap jenjang pendidikan,
matematika dapat digunakan untuk membentuk kepribadian siswa serta
mengembangkan ketrampilan tertentu yang dapat mengasah pola pikir
sehingga seseorang dapat mengaplikasikannya untuk menyelesaikan segalah
permasalahan dalam kehidupan. Guru
harus merubah paradigma belajar mengajar di kelas sehingga tercipta
kondisi lingkungan belajar yang memberi kesempatan kepada siswa untuk
berperan aktif mengkonstruksi konsep-konsep yang dipelajari melalui
pemberian masalah, akibatnya
siswa yang aktif dalam pembelajaran dan guru hanya bertindak sebagai
fasilitator. Hal ini sesuai dengan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning). Geometri
adalah salah satu cabang matematika yang mempelajari tentang titik,
garis, bidang dan benda-benda ruang beserta sifat-sifatnya dan
ukuran-ukurannya dan hubungannya antara yang satu dengan yang lain.
Materi ini diajarkan pada setiap tingkat sekolah baik tingkat SD maupun
menengah. Dengan pembelajaran berbasis masalah, materi geometri ini
dapat diajarkan dimulai dengan suatu permasalahn yang berkaitan dengan
dunia nyata siswa sehingga pembelajaran lebih menyenangkan dan bermakna
bagi siswa. Pembahasan berikut ini akan membahas secara mengenai pembelajaran geometri berbasis Problem Based Learning (PBL).




Kata kunci: PBL, Pembelajaran Geometri




A. PENDAHULUAN

Matematika merupakan ilmu universal yang mendasari
perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai
disiplin ilmu, fondasi dan pembantu bagi ilmu pengetahuan yang lain, berguna dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan sehari-hari, memajukan daya pikir manusia dan dalam upaya memahami ilmu pengetahuan lain. Sebagai salah satu mata pelajaran pokok yang diajarkan di setiap jenjang pendidikan,
matematika dapat digunakan untuk membentuk kepribadian siswa serta
mengembangkan ketrampilan tertentu yang dapat mengasah pola pikir
sehingga seseorang dapat mengaplikasikannya untuk menyelesaikan segalah
permasalahan dalam kehidupan.

Selain itu, Matematika
merupakan mata pelajaran yang membekali peserta didik dengan berfikir
logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif. Oleh karenanya
matematika mempunyai peranan penting untuk mencapai tujuan pendidikan.
Adapu tujuan mata pelajaran matematika di sekolah adalah agar siswa
mampu:

1. Memahami
konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep dan
mengaplikasikan konsep atau algoritma, secara luwes, akurat , efisien,
dan tepat dalam pemecahan masalah.
http://go.girilaya.com/y2af54


2. Menggunakan
penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam
membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan
pernyataan matematika.

3. Memecahkan
masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model
matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh.

4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.

5. Memiliki
sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu memiliki
rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika,
serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah
(Wardani,2008).

Pemahaman
konsep memberikan pengertian bahwa konsep yang diajarkan pada siswa
bukan sebagai hafalan saja melainkan juga harus di pahami sehingga dapat
memecahkan masalah. Siswa akan menggunakan aturan-aturan yang
berdasarkan pada konsep yang telah dipahami dan diselesaikan dengan baik
dan benar.
Pemahaman
konsep merupakan salah satu kecakapan atau kemahiran matematika yang
diharapkan dapat tercapai dalam belajar matematika yaitu dengan
menunjukkan pemahaman konsep matematika yang dipelajari, menjelaskan
keterkaitan antar konsep dan mengaplikasikan konsep algoritma secara
luwes, akurat, efisien dan tepat dalam pemecahan masalah (Depdiknas,
2003). Hal ini sejalan dengan tujuan pertama pembelajaran matematika.

Mengingat pentingnya penguasaan konsep matematika, Seorang
guru harus merubah paradigma belajar yang berpusat pada guru kepada
belajar berpusat pada siswa untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil
belajar. Dengan kata lain, ketika mengajar di kelas, guru harus
menciptakan kondisi lingkungan belajar yang membelajarkan siswa dapat
mendorong siswa belajar, atau memberi kesempatan kepada siswa untuk
berperan aktif mengkonstruksi konsep-konsep yang dipelajari melalui
pemberian masalah. Sehingga
siswa yang aktif dalam pembelajaran dan guru hanya bertindak sebagai
fasilitator. Hal ini sesuai dengan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning).

Menurut Tan (dalam Amir, 2010) Pembelajaran berbasis masalah (Problem based learning)
yaitu pembelajaran yang menuntut aktivitas mental siswa untuk memahami
suatu konsep melalui situasi dan masalah yang disajikan di awal
pembelajaran. Pembelajaran berbasis masalah ini dirancang untuk membantu
siswa mengembangkan kemampuan berpikir dan mengembangkan kemampuan
memecahkan masalah, belajar berbagai peran orang dewasa melalui
keterlibatan mereka dalam pengalaman-pengalaman nyata.

Salah satu materi matematika yang banyak berhubungan dengan kehidupan nyata siswa adalah Geometri. Geometri
adalah salah satu cabang matematika yang mempelajari tentang titik,
garis, bidang dan benda-benda ruang beserta sifat-sifatnya dan
ukuran-ukurannya dan hubungannya antara yang satu dengan yang lain.
Materi ini diajarkan pada setiap tingkat sekolah baik tingkat SD maupun
menengah. (Fuadiah dalam Rohati, 2011).

Berdasarkan penjelasan di atas, penulis berkeinginan untuk mengkaji secara teoritis Pembelajaran Geometri berbasi Problem Based Learning (PBL).




B. PEMBAHASAN

PROBLEM BASED LEARNING (PBL)

1. Definisi Problem Based Learning (PBL)

Problem Based Learning (PBL)
pertama kali dikembangkan oleh prof. Howard Barrow pada tahun 1970-an
dalam pembelajaran ilmu medis di Mcmaster University Canada (amir,2009).
Pembelajaran ini menyajikan suatu masalah yang nyata bagi siswa sebagai
awal pembejaran kemudian diselesaikan melalui penyelidikan dan
diterapkan dengan menggunakan pendekatan pemecahan masalah.

Problem Based Learning (PBL)adalah
Suatu proses pembelajaran yang diawali dari masalah-masalah dunia nyata
sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar, yaitu sebelum belajar
mereka diharuskan mengidentifikasi suatu masalah, baik yang dihadapi
secara nyata maupun telaah kasus. Masalah diajukan sedemikian rupa
sehingga para pelajar menemukan kebutuhan belajar yang diperlukan agar
mereka dapat memecahkan masalah tersebut.

Beberapa definisi tentang Problem Based Learning (PBL)

1. Problem Based Learning
(PBL) menurut Duch (1994), PBL merupakan suatu pembelajaran yang
menantang siswa untuk “belajar untuk belajar”, bekerja sama dalam kelompok untuk mencari solusi dari permasahan dunia nyata.

2. Menurut Arends (dalam Abbas, 2000:12) menyatakan bahwa Problem based learning (PBL) merupakan suatu pendekatan pembelajaran dimana siswa dihadapkan pada masalah nyata sehingga diharapkan siswa dapat
menyusun pengetahuannya sendiri dan menumbuhkembangkan keterampilan
tingkat tinggi dan inquiri, memandirikan siswa, dan meningkatkan
kepercayaan diri sendiri.

Dari beberapa uraian tentang definisi Problem Based Learning (PBL) dapat disimpulkan bahwa Problem Based Learning (PBL) merupakan pendekatan pembelajaran yang menghadapkan siswa pada masalah dunia nyata (real word)
untuk memulai pembelajaran dan merupakan salah satu model pembelajaran
inovatif yang dapat memberikan kondisi belajar aktif kepada siswa. Problem Based Learning
(PBL) adalah pengembangan kurikulum dan proses pembelajaran. Dalam
kurikulumnya dirancang masalah-masalah yang menuntut siswa mendapatkan
pengetahuan yang penting, membuat mereka mahir dalam memecahkan masalah,
dan memiliki strategi belajar sendiri serta kecakapan berpartisipasi
dalam tim.

Dalam Problem Based Learning
(PBL) pembelajaran lebih mengutamakan proses belajar, dimana tugas guru
harus memfokuskan diri untuk membantu siswa, mencapai ketrampilan
mengarahkan diri. Guru dalam model ini berperan sebagai penyaji masalah,
mengadakan dialog, membantu menemukan masalah dan memberikan fasilitas
pembelajaran. Selain itu, guru memberikan dukungan yang dapat
meningkatan pertumbuhan inkuiri dan intelektual siswa.




2. Karakteristik Problem Based Learning (PBL)

Ciri yang paling utama dari pembelajaran PBL adalah dimunculkannya masalah di awal pembelajaran. Adapun beberapa karakteristik Problem Based Learning (PBL) menurut Savoie dan Hughes (dalam Santyasa 2008:3), PBL memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
http://go.girilaya.com/y2af54

(1) Belajar dimulai dengan suatu masalah,

(2) Memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa.

(3) Mengorganisasikan pelajaran diseputar masalah, bukan diseputar disiplin ilmu,

(4) Memberikan tanggung
jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan menjalankan secara
langsung proses belajar mereka sendiri,

(5) Menggunakan kelompok kecil, dan

(6) Menuntut siswa untuk mendemontrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja.




Berdasarkan karakteristik diatas dijelaskan
bahwa pembelajaran dengan model PBL dimulai oleh adanya masalah yang
dapat dimunculkan oleh siswa atau guru, kemudian siswa memperdalam
pengetahuannya tentang apa yang mereka telah ketahui dan apa yang mereka
perlu ketahui untuk memecahkan masalah tersebut. Siswa dapat memilih
masalah yang dianggap menarik untuk dipecahkan sehingga mereka terdorong
berperan aktif dalam belajar. Masalah
yang dijadikan sebagai fokus pembelajaran dapat diselesaikan siswa
melalui kerja kelompok sehingga dapat memberi pengalaman-pengalaman
belajar yang beragam pada siswa seperti kerjasama dan interaksi dalam
kelompok, disamping pengalaman belajar yang berhubungan dengan pemecahan
masalah seperti membuat hipotesis, merancang percobaan, melakukan
penyelidikan, mengumpulkan data, menginterpretasikan data, membuat
kesimpulan, mempresentasikan, berdiskusi, dan membuat laporan. Keadaan
tersebut menunjukkan bahwa model PBL dapat memberikan pengalaman yang
kaya kepada siswa. Dengan kata lain, penggunaan PBL dapat meningkatkan
pemahaman siswa tentang apa yang mereka pelajari sehingga diharapkan
mereka dapat menerapkannya dalam kondisi nyata pada kehidupan
sehari-hari.




3. Tahapan-tahapan Dalam Problem Based Learning (PBL)

PBL biasanya terdapat lima tahapan utama yaitu :

Tabel 2.1 Tahapan -Tahapan Dalam Problem Based Learning (PBL)


Tahap pembelajaran


Kegiatan Guru


Tahap 1. Orientasi siswa pada masalah


Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, memotivasi siswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah


Tahap 2. Mengorganisasi siswa untuk belajar


Membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah


Tahap 3. Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok


Guru mendorong siswa
untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan, dan penyelididikan untuk
mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah


Tahap 4. Mengembangkan dan menyajikan hasil


Guru membantu siswa dalam merencankan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan


Tahap 5.Menganalisis dan mengevaluasi proses dan hasil pemecahan masalah


Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan siswa dan proses- proses yang mereka lakukan.

(diadaptasi dari Ibrahim dan Nur, 2004)

Langkah-langkah pemecahan
masalah dalam pembelajaran PBL paling sedikit ada delapan tahapan
(Rusman, 2006), yaitu: (1) mengidentifikasi masalah, (2) mengumpulkan
data, (3) menganalisis data, (4) memecahkan masalah berdasarkan pada
data yang ada dan analisisnya, (5) memilih cara untuk memecahkan
masalah, (6) merencanakan penerapan pemecahan masalah, (7) melakukan
ujicoba terhadap rencana yang ditetapkan, dan (8) melakukan tindakan (action) untuk memecahkan masalah. Empat
tahap yang pertama mutlak diperlukan untuk berbagai kategori tingkat
berfikir, sedangkan empat tahap berikutnya harus dicapai bila
pembelajaran dimaksudkan untuk mencapai keterampilan berfikir tingkat
tinggi (higher order thinking skills).
Dalam proses pemecahan masalah sehari-hari, seluruh tahapan terjadi dan
bergulir dengan sendirinya, demikian pula keterampilan seseorang harus
mencapai seluruh tahapan tersebut.

4. Keunggulan dan Kelemahan Problem Based Learning (PBL)

Adapun keunggulan dari pembelajaran berdasarkan masalah (Sanjaya, 2006) yaitu ;

· Sebagai suatu strategi pembelajaran problem based learning (PBL) memiliki kelebihan menurut (Sanjaya, 2007) diantaranya:

· Menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa.

· Meningkatkan motivasi dan aktivitas pembelajaran siswa

· Membantu siswa dalam mentransfer pengetahuan siswa untuk memahami masalah dunia nyata

· Membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.

· Mengembangkan
kemampuan siswa untuk berfikir kritis dan mengembangkan kemampuan
mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.

· Memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.

· Memudahkan siswa dalam menguasai konsep-konsep yang dipelajari guna memecahkan masalah dunia nyata.

Disamping terdapat kelebihan, pembelajaran berbasis masalah ini juga terdapat kelemahan. Adapun kelemahan problem based learning ( PBL) diantaranya sebagai berikut :

· Manakala
siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa
masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa
enggan untuk mencobanya

· Untuk
sebagian siswa beranggapan bahwa tanpa pemahaman mengenai materi yang
diperlukan untuk menyelesaikan masalah mereka harus berusaha untuk
memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka akan belajar apa
yang mereka ingin pelajari

Pembelajaran Geometri

Pembelajaran geometri
menempati posisi khusus dalam kurikulum matematika menengah, karena
banyaknya konsep-konsep yang termuat di dalamnya. Dari sudut pandang
psikologi, geometri merupakan penyajian abstraksi dari pengalaman visual
dan spasial, misalnya bidang, pola, pengukuran dan pemetaan. Sedangkan
dari sudut pandang matematik, geometri menyediakan pendekatan-pendekatan
untuk pemecahan masalah, misalnya gambar-gambar, diagram, sistem
koordinat, vektor, dan transformasi. Geometri juga merupakan lingkungan
untuk mempelajari struktur matematika. Menurut Usiskin dalam (Budiarto
2009)mengemukakan bahwa:

1. Geometri adalah cabang matematika yang mempelajari pola-pola visual,

2. Geometri adalah cabang matematika yang menghubungkan matematika dengan dunia fisik atau dunia nyata,

3. Geometri adalah suatu cara penyajian fenomena yang tidak tampak atau tidak bersifat fisik

4. Geometri adalah suatu contoh sistem matematika.

Pembelajaran
geometri merupakan hal yang sangat penting karena pembelajaran geometri
sangat mendukung banyak topik lain dalam matematika dan mampu
mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. Menurut Abdussakir (dalam
Clements & Battista, 1992:421) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran
geometri adalah


1. Mengembangkan kemampuan berpikir logis

2. Mengembangkan intuisi spasial mengenai dunia nyata

3. Menanamkan pengetahuan yang dibutuhkan untuk matematika lanjut

4. Mengajarkan cara membaca dan menginterpretasikan argumen matematika.

Sedangkan
menurut Budiarto (2000) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran geometri
adalah untuk mengembangkan kemampuan berpikir logis, mengembangkan
intuisi keruangan, menanamkan pengetahuan untuk menunjang materi yang
lain, dan dapat membaca serta menginterpretasikan argumen-argumen
matematik.

Pada dasarnya geometri mempunyai peluang yang lebih besar untuk dipahami siswa dibandingkan dengan cabang matematika yang lain. Hal
ini karena ide-ide geometri sudah dikenal oleh siswa sejak sebelum
mereka masuk sekolah, misalnya garis, bidang dan ruang. Meskipun
demikian, bukti-bukti di lapangan menunjukkan bahwa hasil belajar
geometri masih rendah dan perlu ditingkatkan. Bahkan, di antara berbagai
cabang matematika, geometri menempati posisi yang paling
memprihatinkan. Bukti-bukti empiris di lapangan menunjukkan bahwa masih
banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar geometri, mulai
tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Hal ini dilihat dari dari hasil
belajar siswa yang belum memahami konsep-konsep geometri terutama pada
konsep bangun ruang.

Seperti yang diketahui permasalahan pembelajaran geometri pada dasarnya dipengaruhi oleh banyak faktor. Pertama,
krusialitas muatan kurikulum (stndar isi). Dalam konteks ini banyak
materi Matematika khususnya di SMP memiliki tingkat kesulitan relatif
tinggi, yang melebihi tingkat intelektual siswa rata-rata (sebagai
contoh standar isi tentang “Kesebangunan Segitiga”, “Eksponen”,
“Lingkaran”, dan “Barisan dan Deret”). Kedua, ketidaksiapan siswa
secara individu, terutama dalam memahami konsep-konsep yang pelik dan
menghafalkan (mengingat) rumus-rumus yang demikian banyak. Ketiga,
keterbatasan fasilitas sampai saat ini sebagian besar sekolah masih
terkendala pada alat bantu pembelajaran, seperti: alat peraga, dan media
pendukung lainnya. Keempat, kesulitan yang bersumber dari guru
antara lain: (1) kurangnya inisiatif guru dalam menciptakan metode
penurunan rumus yang sesuai dengan tingkat intelektual siswa, (2) tidak
berupayanya guru dalam menciptakan pembelajaran yang (Kreatif, Efektif,
Efisien, Menyenangkan, Aktif, Solutif, dan Antisipatif), (3)
kecenderungan guru untuk mengambil jalan pintas dengan hanya memberi rumus siap pakai kepada siswa, (4) kurangnya kesadaran guru akan pentingnya soal-soal berbentuk ‘problem solving’ dan soal bersifat open-ended.

Pada kurikulum tingkat
satuan pendidikan (KTSP) untuk SMP, materi bangun ruang diajarkan pada
siswa kelas VIII semester 2. Penelitian ini akan mengembangkan materi
ajar bangun ruang dengan :

Standar Kompetensi (SK):

Memahami sifat-sifat kubus, balok, prisma, limas, dan bagian-bagiannya serta menentukan ukurannya

Kompetensi Dasar (KD):

1) Mengidentifikasi sifat-sifat kubus, balok, serta bagian-bagiannya, dengan indikator sebagai berikut :

· menentukan sisi (bidang), rusuk, dan titik sudut kubus, balok,

2) Menghitung luas permukaan dan volume kubus, balok, dengan indikator:

· Menemukan rumus luas permukaan kubus, balok

· Menghitung luas permukaan kubus, balok

· Menemukan rumus volume kubus, balok

· Menghitung volume kubus, balok




C. PENUTUP

Dari uraian diatas, perlu adanya perubahan dalam
pembelajaran matematika yang lebih mengutamakan proses belajar dan
pembelajaran hendaknya dimulai dari suatu masalah. Tugas guru seharusnya
memfokuskan diri untuk membantu siswa dalam mencapai ketrampilan yang
mereka miliki. Pendekatan pembelajaran berbasis masalah dapat dijadikan
salah satu alternatif dalam pembelajaran matematika sekarang ini. Dengan pembelajaran berbasis masalah diharapkan dapat membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Berdasarkan pembahasan di atas, pembelajaran geometri dapat diajarkan menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis masalah.

DAFTAR PUSTAKA

Sumber :
http://go.girilaya.com/y2af54


Warga GIRILAYA
Learning By DOING
Girilaya Real Groups

semoga bermanfaat
no rek BCA : 0102148973
a/n WAHYU BAGUS MIJAYANTO, A.MD
http://forum.girilaya.com

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas  Message [Halaman 1 dari 1]

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik

Ping your blog, website, or RSS feed for Free
ping fast  my blog, website, or RSS feed for Free

 

pagerank analyzerW3 Directory - the World Wide Web Directory

© 2014 Copyright Girilaya Real Groups - All Rights Reserved | Back to Top